BREAKING NEWS

KINERJA BUMN TAMBANG: Tantangan ANTM & PTBA Masih Berat

Emiten tambang pelat merah, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. dan PT Perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. diperkirakan masih menghadapi tantangan berat pada tahun ini menyusul lemahnya harga komoditas.

Analis PT KDB Daewoo Securities Indonesia Andrew Argado mengatakan badan usaha milik negara (BUMN) berbasis komoditas akan menghadapi permasalahan yang sama ketimbang sebelumnya. Namun, strategi yang dilakukan oleh masing-masing emiten menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tahun ini.

"Tekanan harga komdoditas terlalu besar bagi Antam dan Bukit Asam. Tetapi, Bukit Asam diuntungkan oleh standby buyer," katanya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (2/3/2016).
Emiten berkode saham ANTM dan PTBA tersebut, sambungnya, tidak lagi harus bergantung pada harga komoditas. Efisiensi yang dilakukan manajemen bakal menjadi faktor penentu membaiknya kinerja emiten pelat merah tersebut.

Saat berbincang dengan Bisnis.com, Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hartono mengatakan penyebab membengkaknya kerugian perseroan pada tahun lalu lantaran melorotnya harga komoditas. Harga feronikel tercatat amblas 36% dan emas terkoreksi 5% year-on-year.

Untuk menghadapi volatilitas harga komoditas pada tahun ini, sambungnya, manajemen Antam bakal melakukan efisiensi besar-besaran di semua lini usaha. Utamanya pada unit produksi feronikel dan emas, serta lini non produksi.

"Dari operasional harus efisiensi di semua lini usaha, baik di produksi dan di luar produksi. Semua unit kami harus profit," tuturnya.

Tahun ini, Antam bakal mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Pomalaa yang menyerap 40% biaya produksi feronikel. Peseroan juga tengah mengubah bahan bakar pabrik di Pomalaa dari bahan bakar minyak ke gas demi efisiensi biaya.

Tidak hanya itu, manajemen ANTM juga bakal melakukan negosiasi ulang dengan kontraktor-kontraktor mitra demi menjaga profitabilitas feronikel. Pasalnya, feronikel masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perseroan.

Sementara itu, lanjutnya, pada tahun ini perseroan menggenjot produksi feronikel tumbuh 17,6% menjadi 20.000 ton dari 17.000 ton. Sedangkan, produksi emas ditargetkan naik 9% menjadi 2,4 ton dari 2,2 ton pada 2014.

Adapun, alokasi belanja modal (capital expenditure/Capex) perseroan tahun ini mencapai Rp1,6 triliun yang mayoritas bagi kebutuhan proyek pabrik feronikel di Halmahera. Tahun lalu, perseroan menganggarkan belanja modal Rp2,6 triliun dengan realisasi Rp2 triliun.

Berkebalikan, di tengah lemahnya harga komoditas batu bara, emiten tambang pelat merah Bukit Asam justru membukukan kenaikan laba bersih 9,4% menembus Rp2,03 triliun pada 2015.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, Rabu (2/3/2016), disebutkan laba bersih tersebut lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp1,86 triliun.

Pendapatan yang diraup Bukit Asam sepanjang periode 2015 meningkat 5% menjadi Rp13,73 triliun dari tahun sebelumnya Rp13,07 triliun.

bisnis

Posting Komentar