PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menaikkan tarif di 15 ruas setelah
mendapatkan persetujuan pemerintah. Bagaimana dampaknya terhadap kinerja
perseroan pada 2016?Dua bulan sebelum pergantian tahun lalu,
tarif 15 ruas jalan tol yang terletak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Bali mengalami
peningkatan sekitar 8%-10%.
Ruas tersebut antara lain
Jakarta-Bogor-Ciawi, Jakarta-Tangerang, Tol Dalam Kota Jakarta, Lingkar
Luar Jakarta, Padalarang-Cileunyi, Semarang seksi A-B-C,
Surabaya-Gempol, Palimanan-Plumbon-Kanci,
Cikampek-Purwakarta-Padalarang, Serpong-Pondok Aren, Pondok
Aren-Bintaro, dan Tangerang-Merak.
Sementara itu, ruas lainnya
antara lain Belawan-Medan-Tanjung Morawa, Ujung Pandang Tahap I dan
Tahap II, Viaduct-Ulujami dan Bali Mandara.
Peningkatan tarif itu
sesuai dengan Ke -pu tusan Menteri Pekerjaan Umum No.507/KPTS/M/2015
tentang Penyesuaian Tarif Tol pada Beberapa Ruas Jalan Tol.
Penaikan
tarif itu dianggap telah diatur dalam UU No.38/2004 tentang Jalan dan
Per aturan Pemerintah No.15/2005 tentang Jalan Tol di mana evaluasi dan
penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun sekali oleh Badan
Pengatur Jalan Tol.
Penyesuaian tarif tol itu dilakukan
berdasarkan angka inflasi selama dua tahun terakhir dengan alasan Badan
Usaha Jalan Tol dapat melakukan pengembalian investasi sesuai rencana
bisnisnya.
Besaran inflasi tersebut berbeda-beda di masing-masing
tempat di mana terdapat jalan tol seperti Jakarta sebesar 12,51%,
Bandung 10,39%, Cirebon 8,35%, Bogor 9,57%, Surabaya 11,35%, Medan
12,34%, Semarang 10,53%, Tangerang 12,89%, Makassar 11,89%, Serang
14,78%, Cilegon 13,02%, dan Bali 10,72%.
Kenaikan tarif tol
berkisar antara Rp500-Rp1.000, bergantung dengan tingkat inflasi daerah
yang dilintasi dan panjang ruas tol. Peningkatan tarif terbesar berada
di ruas Tangerang-Merak sebesar Rp5.500.
Marwan Halim, analis PT
UOB Kay Hian Securities, memaparkan peningkatan tarif sebesar 8%-10%
tersebut berdampak ter-hadap pertumbuhan pendapatan jalan tol Jasa Marga
sebesar 12% menjadi Rp8,6 triliun pada 2016.
“Jasa Marga juga
memp royeksikan pen-dapatan jalan tol mencapai Rp8,6 triliun atau
meningkat 12% y-o-y karena dampak setahun penuh dari peningkatan tarif
di sebagian besar jalan tol pada kuartal IV/2015 maupun adanya operasi
tiga jalan tol baru pada tahun ini,” tulis Marwan dalam riset yang
dirilis pada Jumat (5/2/2016).
Ketika ditanya mengenai potensi
pemangkasan tarif tol pada masa mendatang, seperti yang dilakukan oleh
Presiden Joko Widodo pada 2015, manajemen Jasa Marga memaparkan
pemerintah selaku pemegang saham mayoritas memiliki hak untuk melakukan
hal tersebut.
“Bagaimanapun, kemungkinan pemangkasan tarif itu
rendah karena pemerintah telah memberikan persetujuan untuk meningkatkan
tarif jalan tol sebesar 8%-10% selama kuartal IV/2015,” tulis Marwan.
LABA BERSIH
UOB Kay Hian Securities memperkirakan laba bersih
Jasa Marga mencapai Rp1,5 triliun pada 2016 karena dampak dari tarif
yang lebih tinggi serta pertumbuhan trafik pada 2016. Pertumbuhan trafik
Jasa Marga diperkirakan mencapai 4%.
Di samping itu, Jasa Marga
bakal mengoperasikan 71,5 kilometer jalan tol tambahan pada tahun ini
antara lain ruas Semarang-Solo seksi III sepanjang 17,5 ki lometer,
Surabaya-Mojokerto seksi IV 18,5 km dan Solo-Ngawi seksi IA 35,5km.
Dengan
penyelesaian tersebut, Jasa Marga akan mengoperasikan 660,9 kilometer
jalan tol pada akhir 2016. Emiten berkode saham JSMR itu juga berencana
memasukkan penawaran untuk konsesi sejumlah ruas jalan tol baru antara
lain ruas Pandaan-Malang sepanjang 38 km, ruas Manado-Bitung 39 km,
Batang-Semarang 75 km, Balikpapan-Samarinda 99 km.
Ruas
Pandaan-Malang merupakan ruas yang dianggap cukup potensial untuk
meningkatkan nilai perseroan karena terhubung dengan ruas Gempol-Pandaan
sepanjang 13,6 km yang sudah dioperasikan oleh Jasa Marga sejak Juni
2015.
“Sementara itu, Jasa Marga telah memprakarsai untuk
mengoperasikan Jakarta-Cikampek II sepanjang 60 kilometer dan pemerintah
telah menjamin perusahaan hak untuk menyamakan penawaran (the right to match) untuk setiap penawar selama proses lelang. Hasil dari proses tender akan diumumkan tahun ini,” paparnya.
Pada
saat ini, perusahaan memiliki rencana investasi jalan tol sepanjang 460
kilometer senilai Rp40 triliun. Seluruh ruas ditargetkan beroperasi
secara bertahap pada akhir 2018.
Investasi itu sekaligus dilakukan
untuk mendukung program pemerintah membangun 1.000 kilometer jalan tol
dan peningkatan aset perseroan.
Sebagai gambaran, ruas jalan tol
baru yang tengah digarap oleh perusahaan antara lain Bogor Outer Ring
Road (panjang 11 km, nilai investasi Rp980 miliar), Semarang-Solo (72,64
km, Rp6,21 triliun), Gempol-Pasuruan (34,15 km, Rp2,77 triliun), dan
Cengkareng-Kunciran (14,19 km, Rp3,51 triliun).
Selain itu,
perseroan juga menggarap ruas Kunciran-Serpong (11,19 km, Rp2,62
triliun), JORR W2 North (7,7 km, Rp2,15 triliun), Surabaya-Mojokerto
(36,3 km, Rp3,22 triliun), Gempol-Pandaan (13,61 km, Rp1,17 triliun),
dan Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa (10 km, Rp2,48 triliun).
Ruas
lainnya antara lain Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (61,7 km, Rp4,07
triliun), Solo-Ngawi (90,1 km, Rp5,14 triliun), Ngawi-Kertosono (87,02
km, Rp3,83 triliun), dan Cinere-Serpong (10,24 km, Rp2,2 triliun).
Dalam
publikasinya, UOB Kay Hian mematok target harga saham JSMR sebesar
Rp7.250, atau lebih tinggi dibandingkan dengan target sebelumnya sebesar
Rp7.050. Pada perdagangan kemarin, harga saham perseroan ditutup di
level Rp5.950. ()
BISNIS.COM
KINERJA JASA MARGA: Menakar Dampak Penaikan Tarif
Posted by Roy Vandi Tambunan on 23.34 in Review | Comments : 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


Posting Komentar